bidan YaniLebih dari 15 orang Warga Kampung Cisadane, Cibogo, dan Batubelah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terindikasi terserang penyakit Prambusia atau butul atau sejenis penyakit kulit yang menyerang sekujur tubuh penderita sehingga produktivitas penderita menurun.

Demikian disampaikan Kader Desa Kanekes, Yuliani, Amd, saat koordinasi pra pelatihan kader kesehatan pada Kamis (16/6/2016) di Kaduketug, Kanekes.

Prambusia atau patek merupakan jenis penyakit kulit yang mudah menular, penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintil-bintil kecil pada kulit yang letaknya berdekatan. Setelah matang, bintil-bintil tersebut merekah dan mengeluarkan nanah. Jika mengering, menimbulkan kerak dan membekas dan disertai dengan sakit kepala dan nyeri pada sendi.

Menurut Bidan Yani, penyakit itu bukan termasuk penyakit yang mematikan, karena menyerang pada bagian kulit saja, seperti luka koreng.

“Kaki merupakan bagian badan yang kebanyakan terkena Frambusia, seperti mata ikan, namun susah untuk disembuhkan dan menular” ujarnya.

Yani menambahkan, kasus prambusia di Baduy Dalam ditemukan sejak tahun 2001- 2009 juga hingga saat ini dan tercatat lebih dari 94 orang hingga kini terus dilakukan pengobatan maupun pencegahan penyebaran penyakit tersebut. Bahkan, pencegahan prambusia dilakukan pengobatan secara massal bersama petugas medis Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak.

“Dulu, penangannannya melalui disuntik dengan menggunakan ampicilin dan benzetin untuk membunuh kuman-kuman pada bagian tubuhnya, namun sekarang menggunakan obat antibiotik” tambahnya.

Penyebaran prambusia ditularkan kuman akibat buruknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) warga setempat. Sebagian besar penderita prambusia warga Baduy Dalam tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikawartana karena mereka kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.      Ia mencontohkan perilaku kurang sehat, berpakaian sampai berminggu-minggu tidak diganti, mandi tidak menggunakan sabun, dan bahkan warga Baduy ketika tidur tidak beralas tikar.

“Dengan hidup kurang bersih itu tentu sangat rawan terhadap penyebaran penyakit kulit itu,” katanya.

“Insya Allah dalam waktu dekat ini kami akan melakukan pengobatan kembali bagi warga yang terkena penyakit tersebut bersama dengan petugas kesehatan dari Pemerintah Kabupaten Lebak”

“Harapan kami, mereka mau hidup bersih dengan menjaga lingkungan dan jika sakit berobat ke puskesmas terdekat”

“Dengan adanya para kader kesehatan ini semoga dapat membantu mendeteksi dan mendata jumlah warga yang terkena dampak” pungkasnya.